Bagaimana Guru Bisa Menggunakan Why? Sebanyak 5 Kali untuk Menyelami Akar Pemikiran Siswa untuk Pembelajaran Mendalam

Bagaimana Guru Bisa Menggunakan Why? Sebanyak 5 Kali untuk Menyelami Akar Pemikiran Siswa  untuk Pembelajaran Mendalam

Dalam lanskap pendidikan modern, tantangan terbesar bagi guru bukan lagi sekadar menyampaikan informasi, melainkan memastikan siswa benar-benar memahami, menginternalisasi, dan mampu menerapkan pengetahuan tersebut. Seringkali, jawaban siswa yang dangkal atau kesalahan berulang mengindikasikan adanya celah dalam pemahaman inti yang tidak terlihat di permukaan. Di sinilah kekuatan pertanyaan "Mengapa?" menjadi sangat relevan. Namun, bagaimana jika kita tidak berhenti pada satu "Mengapa?", melainkan menggalinya hingga lima kali? Teknik "5 Why" yang adaptif ini terbukti ampuh untuk menyelami akar pemikiran siswa, membuka gerbang menuju pembelajaran mendalam yang transformatif.

Memahami Akar Masalah, Memahami Akar Pemikiran

Teknik "5 Why" berawal dari dunia manufaktur, khususnya Toyota Production System, sebagai metode analisis akar masalah (root cause analysis). Tujuannya adalah menemukan penyebab fundamental suatu masalah dengan bertanya "Mengapa?" secara berulang-ulang, biasanya sampai lima kali. Dalam konteks pembelajaran, kita tidak mencari "masalah" dalam arti negatif, melainkan mencari "akar pemikiran" — fondasi kognitif, asumsi, pengalaman, atau logika yang mendasari jawaban atau pemahaman seorang siswa.

Dengan menerapkan teknik ini, guru dapat:

  • Mengembangkan Berpikir Kritis: Siswa diajak untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi mempertanyakan, menganalisis, dan mensintesis.
  • Meningkatkan Metakognisi: Siswa belajar tentang proses berpikir mereka sendiri, bagaimana mereka sampai pada suatu kesimpulan.
  • Mendalami Pemahaman Konseptual: Membantu siswa melihat hubungan antaride dan membangun kerangka pengetahuan yang lebih kuat.
  • Membangun Kemandirian Belajar: Memberdayakan siswa untuk mencari jawaban lebih dalam dan memahami tujuan pembelajaran mereka.

Panduan 5 Langkah Menggunakan "Why?" untuk Menyelami Pemikiran Siswa

Mari kita ilustrasikan bagaimana guru dapat menggunakan "Why?" sebanyak lima kali, dengan contoh di kelas Matematika atau Sains.

Langkah 1: Mengapa (1st Why) – Memulai dengan Observasi Awal

Guru memulai dengan mengamati jawaban, pernyataan, atau tindakan siswa. Ini bisa berupa jawaban yang salah, jawaban yang benar tetapi tanpa penjelasan, atau bahkan kesulitan dalam memulai suatu tugas.

Contoh Situasi: Seorang siswa menjawab "C" untuk soal pilihan ganda tentang efek rumah kaca, padahal jawabannya adalah "B".

Guru: "Terima kasih atas jawabanmu, [Nama Siswa]. Mengapa kamu memilih jawaban C?" (Ini adalah pertanyaan "Why?" pertama)

Tujuan: Mendapatkan alasan langsung atau pemikiran permukaan siswa, yang mungkin hanya berdasarkan ingatan sesaat atau tebakan. Ini membuka pintu untuk eksplorasi lebih lanjut.

Langkah 2: Mengapa (2nd Why) – Menggali Asumsi atau Proses Berpikir

Setelah mendengar alasan pertama siswa, guru mendorong untuk menggali lebih dalam tentang asumsi atau proses berpikir di baliknya.

Siswa: "Saya pikir jawaban C adalah karena CO2 membuat suhu Bumi jadi lebih panas."

Guru: "Baik, itu observasi yang bagus. Sekarang, mengapa kamu berpikir CO2 membuat suhu Bumi jadi lebih panas?" (Ini adalah pertanyaan "Why?" kedua)

Tujuan: Mengidentifikasi dasar pemikiran siswa. Apakah itu dari pelajaran sebelumnya, pengalaman pribadi, atau mungkin suatu miskonsepsi yang belum ditangani?

Langkah 3: Mengapa (3rd Why) – Menyingkap Pengetahuan Dasar atau Miskonsepsi

Pada tahap ini, guru mencoba menemukan fondasi pengetahuan siswa atau mungkin miskonsepsi yang lebih dalam yang memengaruhi pemahaman mereka.

Siswa: "Karena gas CO2 itu kan gas buang dari pabrik, dan kalau banyak gas buang, Bumi jadi kotor dan panas."

Guru: "Oke, ada benarnya bahwa CO2 adalah gas buang. Tapi mengapa menurutmu 'kotor' dan 'panas' selalu berhubungan seperti itu dalam konteks ini?" (Ini adalah pertanyaan "Why?" ketiga)

Tujuan: Menggali apakah siswa memahami mekanisme di balik pernyataan mereka. Apakah ada pemahaman yang salah tentang hubungan sebab-akibat atau definisi istilah kunci?

Langkah 4: Mengapa (4th Why) – Menghubungkan ke Konsep Lebih Luas

Setelah memahami dasar pemikiran siswa, guru menghubungkannya dengan konsep-konsep yang lebih luas atau konsekuensi dari pemikiran tersebut.

Siswa: "Yah, saya cuma mikir kalau banyak polusi kan bahaya, dan suhu panas itu kan bahaya juga. Jadi, ya gitu."

Guru: "Penting untuk membedakan antara polusi udara secara umum dan efek rumah kaca yang spesifik. Mengapa memahami perbedaan antara polusi udara dan mekanisme efek rumah kaca itu penting untuk bisa menjawab soal ini dengan benar?" (Ini adalah pertanyaan "Why?" keempat)

Tujuan: Membantu siswa melihat bagaimana pemahaman mendalam tentang suatu konsep memengaruhi kemampuan mereka untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang lebih kompleks. Mengidentifikasi gap dalam pemahaman konseptual.

Langkah 5: Mengapa (5th Why) – Membangun Relevansi Pribadi dan Pembelajaran Jangka Panjang

Ini adalah langkah krusial untuk menjadikan pembelajaran bermakna. Guru mengaitkan pemahaman yang baru digali dengan relevansi pribadi siswa atau tujuan pembelajaran jangka panjang.

Siswa: "Oh, jadi kalau saya cuma tahu kalau CO2 itu gas buang yang bikin panas, saya nggak akan bisa bedain kenapa efek rumah kaca itu penting dipelajari dan gimana cara nguranginnya."

Guru: "Tepat sekali! Mengapa kamu ingin memahami sepenuhnya tentang efek rumah kaca dan perannya bagi kehidupan di Bumi?" (Ini adalah pertanyaan "Why?" kelima)

Tujuan: Menginspirasi motivasi intrinsik. Membantu siswa melihat nilai dan tujuan dari pembelajaran, menghubungkannya dengan kehidupan mereka, atau bahkan aspirasi masa depan. Ini mengukuhkan pembelajaran menjadi pemahaman mendalam yang berjangka panjang.

Tips untuk Implementasi yang Efektif:

  • Ciptakan Lingkungan Aman: Pastikan siswa merasa nyaman untuk berbagi pemikiran tanpa takut salah atau dihakimi. Gunakan nada yang mendukung dan ingin tahu.
  • Fleksibilitas: Tidak semua situasi memerlukan tepat lima "Mengapa?". Terkadang tiga sudah cukup, atau bahkan lebih jika siswa sangat termotivasi. Intinya adalah mencapai akar pemikiran.
  • Variasi Pertanyaan: Jangan selalu menggunakan kata "Mengapa?". Ganti dengan "Apa yang membuatmu berpikir begitu?", "Bagaimana kamu sampai pada kesimpulan itu?", "Apa yang menjadi dasar keyakinanmu?", atau "Apa implikasinya?".
  • Kesabaran dan Mendengarkan Aktif: Biarkan siswa berpikir. Beri waktu. Dengarkan dengan saksama jawaban mereka untuk merumuskan pertanyaan "Mengapa?" berikutnya yang relevan.
  • Modelkan Proses: Kadang-kadang, guru bisa "berpikir keras" di depan siswa, menunjukkan bagaimana mereka menggali pertanyaan untuk diri sendiri.
  • Fokus pada Pemahaman, Bukan Penghakiman: Tujuan utama adalah memahami perspektif siswa dan membimbing mereka ke pemahaman yang lebih dalam, bukan untuk mengoreksi kesalahan secara langsung.

Kesimpulan

Pertanyaan "Mengapa?" adalah salah satu alat paling kuat dalam kotak perkakas seorang guru. Ketika digunakan berulang kali dan dengan sengaja, ia berubah menjadi kunci yang membuka lapisan-lapisan pemikiran siswa, menyingkap asumsi, miskonsepsi, dan kerangka kognitif yang mendasari pemahaman mereka. Dengan membimbing siswa melalui perjalanan lima "Mengapa?", guru tidak hanya mengoreksi jawaban, tetapi juga memupuk keterampilan berpikir kritis, metakognisi, dan motivasi intrinsik yang merupakan inti dari pembelajaran mendalam. Mari kita jadikan "Mengapa?" sebagai mantra di kelas, memberdayakan siswa untuk menjadi pembelajar yang lebih bijaksana dan ingin tahu.

Komentar (0)

Silakan login terlebih dahulu untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Promo
mari buat perangkat pembelajaran Anda dengan 200 poin gratis.