Dharmasraya, sebuah nama yang mungkin tidak sepopuler Sriwijaya atau Majapahit dalam lembar sejarah Nusantara, seringkali hanya disebut sebagai "penerus" atau "kelanjutan" dari hegemoni maritim Sriwijaya yang perkasa. Anggapan ini, meskipun memiliki dasar historis, cenderung menyederhanakan kompleksitas dan keunikan kerajaan yang berpusat di hulu Sungai Batang Hari ini. Padahal, Dharmasraya adalah entitas politik dan budaya yang mandiri, memiliki kisah kebangkitan, puncak kejayaan, dan warisan yang jauh lebih mengejutkan daripada sekadar bayangan pendahulunya. Mari kita selami fakta-fakta yang membuktikan bahwa Dharmasraya adalah pemain kunci dalam panggung sejarah Sumatera, bukan sekadar penerus.
1. Bangkit dari Keruntuhan Sriwijaya, Bukan Sekadar Estafet Kekuasaan
Mitos bahwa Dharmasraya adalah penerus langsung seringkali mengaburkan proses dinamis keruntuhan Sriwijaya. Abad ke-11 menjadi titik balik penting bagi Sriwijaya dengan serangkaian serangan dari Kerajaan Cola di India Selatan dan pergeseran jalur perdagangan internasional. Kekuasaan Sriwijaya di pesisir mulai melemah, menciptakan kekosongan politik di Sumatera bagian tengah.
Dharmasraya bangkit dari situasi ini. Berbeda dengan pusat Sriwijaya yang maritim di muara sungai (seperti Palembang atau Jambi), Dharmasraya menggeser pusat kekuatan ke pedalaman, tepatnya di hulu Sungai Batang Hari (sekarang wilayah Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat). Ini bukan transisi mulus, melainkan lahirnya kekuatan baru yang memanfaatkan geografi pedalaman untuk mengendalikan jalur perdagangan darat dan sungai menuju dataran tinggi Minangkabau, yang kaya akan emas dan hasil bumi.
2. Pusat Politik dan Agama Buddha Tantrayana yang Kuat
Dharmasraya bukan hanya sekadar kerajaan regional yang kecil. Bukti arkeologis dan prasasti menunjukkan bahwa ia adalah pusat keagamaan Buddha Tantrayana yang sangat berpengaruh. Salah satu bukti paling kuat adalah Prasasti Padang Roco bertarikh 1286 Masehi. Prasasti ini mencatat tentang pengiriman arca Amoghapasa Lokeswara dari Raja Kertanagara Singhasari ke Bhumi Malayu (Dharmasraya) sebagai tanda persahabatan dan persekutuan (Ekspedisi Pamalayu).
Pemberian arca Amoghapasa, yang merupakan manifestasi dari Buddha yang penuh belas kasih, menunjukkan status Dharmasraya sebagai kerajaan yang dihormati dan memiliki hubungan diplomatik yang setara dengan kerajaan besar di Jawa. Ini bukan penaklukan, melainkan upaya Kertanagara untuk menjalin aliansi strategis dalam menghadapi ancaman invasi Mongol. Keberadaan patung ini, lengkap dengan atribut keagamaan yang kompleks, menegaskan bahwa Dharmasraya adalah pusat keilmuan dan praktik Buddha Tantrayana yang berkembang pesat.
3. Jembatan Budaya dan Politik Menuju Pagaruyung
Salah satu fakta paling mengejutkan adalah peran Dharmasraya sebagai "jembatan" bagi lahirnya Kerajaan Pagaruyung, kerajaan Minangkabau yang kemudian sangat berpengaruh. Adityawarman, seorang tokoh sentral dalam sejarah Minangkabau, diyakini memiliki hubungan erat dengan Dharmasraya. Beberapa sejarawan menempatkannya sebagai keponakan atau putra dari raja Dharmasraya terakhir, Mauliwarmadewa. Adityawarman sendiri memiliki latar belakang pendidikan dan politik yang kuat di Jawa, berkat kedekatannya dengan keluarga kerajaan Majapahit.
Ketika Adityawarman kembali ke Sumatera, ia tidak membangun kerajaan dari nol. Ia membangun di atas fondasi sosial, politik, dan keagamaan yang telah ada di Dharmasraya. Ia membawa pengaruh Jawa, terutama unsur Hindu-Buddha, dan mengadaptasinya dengan tradisi lokal. Ini menunjukkan bahwa Dharmasraya bukan hanya sebuah entitas yang berdiri sendiri, tetapi juga merupakan inkubator penting bagi perkembangan budaya dan politik Minangkabau selanjutnya, yang puncaknya adalah Kerajaan Pagaruyung.
4. Otonomi di Tengah Hegemoni Jawa
Meskipun seringkali berada dalam bayang-bayang kekuatan besar seperti Singhasari dan Majapahit, Dharmasraya berhasil mempertahankan tingkat otonomi yang signifikan. Ekspedisi Pamalayu oleh Kertanagara dan kemudian hubungan dengan Majapahit di era Hayam Wuruk dan Gajah Mada, tidak selalu berarti penaklukan total. Sebaliknya, hubungan ini seringkali berupa aliansi strategis, pengakuan kedaulatan, atau bahkan pertukaran budaya.
Naskah Nagarakretagama memang menyebutkan Malayu (yang diidentifikasi sebagai Dharmasraya) sebagai salah satu wilayah bawahan Majapahit. Namun, status "bawahan" pada masa itu bisa sangat bervariasi, seringkali berarti pengakuan simbolis atas hegemoni tanpa campur tangan langsung dalam pemerintahan internal. Dharmasraya, dengan kekuatan ekonomi dan keagamaan yang dimilikinya, mampu menavigasi dinamika politik regional dengan cerdas, menjaga keberlangsungan kekuasaannya selama berabad-abad.
Kesimpulan
Dharmasraya adalah lebih dari sekadar "penerus" Sriwijaya. Ia adalah sebuah kerajaan dengan identitas, kekuasaan, dan warisannya sendiri yang unik. Bangkit dari puing-puing kekuasaan Sriwijaya, ia menjadi pusat politik dan keagamaan yang penting di pedalaman Sumatera, membangun jembatan budaya menuju peradaban Minangkabau, dan dengan cerdik mempertahankan otonominya di tengah pergulatan kekuasaan Nusantara. Mengakui fakta-fakta mengejutkan ini adalah langkah penting untuk memahami kompleksitas sejarah Indonesia yang kaya, dan memberikan tempat yang layak bagi Dharmasraya dalam narasi besar bangsa.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!