Sugata Mitra: Hole in the Wall – belajar mandiri tanpa guru langsung.

Sugata Mitra: Hole in the Wall – belajar mandiri tanpa guru langsung.

Sugata Mitra: Hole in the Wall – Belajar Mandiri Tanpa Guru Langsung

Dalam lanskap sejarah pendidikan, beberapa ide muncul dengan kekuatan untuk menantang paradigma yang sudah mendarah daging. Salah satunya adalah eksperimen revolusioner yang dipelopori oleh Profesor Sugata Mitra pada akhir 1990-an, dikenal sebagai proyek “Hole in the Wall” (HiTW). Proyek ini tidak hanya mendefinisikan ulang batas-batas pengajaran dan pembelajaran, tetapi juga menyoroti potensi luar biasa dari pembelajaran mandiri yang didorong oleh rasa ingin tahu intrinsik, bahkan di antara anak-anak yang sebelumnya tidak memiliki akses terhadap pendidikan formal.

Awal Mula Sebuah Ide Radikal

Kisah ini dimulai pada tahun 1999 di Kalkaji, sebuah daerah kumuh di New Delhi, India. Sugata Mitra, seorang ilmuwan pendidikan dan profesor teknologi pendidikan, memiliki pertanyaan sederhana namun mendalam: Jika anak-anak diberi komputer dan akses internet, apakah mereka akan belajar menggunakannya sendiri? Dan jika ya, apa yang bisa mereka pelajari tanpa intervensi langsung dari seorang guru?

Untuk menguji hipotesis ini, Mitra dan timnya memasang sebuah komputer di dinding pembatas antara kantornya dan daerah kumuh tersebut. Komputer itu ditempatkan pada ketinggian yang dapat dijangkau anak-anak, dengan keyboard dan mouse yang terlindungi, namun tetap dapat diakses. Tidak ada instruksi, tidak ada guru, hanya sebuah mesin yang terhubung ke internet. Ini adalah percobaan yang benar-benar minim intervensi.

Penemuan yang Mengejutkan

Hasilnya melampaui ekspektasi Mitra. Dalam beberapa menit setelah komputer dipasang, anak-anak mulai berkumpul, mengamati, dan berinteraksi dengannya. Mereka mulai bereksperimen, menekan tombol, menggerakkan mouse, dan secara bertahap, tanpa bantuan orang dewasa, mereka belajar cara menavigasi antarmuka pengguna Windows.

Yang lebih mencengangkan adalah apa yang terjadi selanjutnya. Anak-anak tersebut, yang sebagian besar tidak pernah bersekolah atau memiliki akses ke teknologi sebelumnya, tidak hanya belajar menggunakan komputer untuk bermain game. Mereka mulai menjelajahi internet, mencari informasi, dan bahkan, dalam salah satu kasus yang paling terkenal, sekelompok anak berusia sekitar 8 hingga 12 tahun berhasil mempelajari dasar-dasar bioteknologi dalam bahasa Inggris, meskipun mereka hanya berbicara bahasa Hindi dan tidak memahami istilah-istilah ilmiah tersebut sebelumnya. Mereka belajar secara kolaboratif, saling membantu, dan berbagi pengetahuan.

Implikasi terhadap Pendidikan

Proyek HiTW, yang kemudian direplikasi di berbagai lokasi di seluruh India dan negara-negara lain, mengungkapkan beberapa kebenaran fundamental tentang pembelajaran:

  1. Pembelajaran Mandiri dan Rasa Ingin Tahu: Anak-anak memiliki kapasitas bawaan untuk belajar dan rasa ingin tahu yang tak terbatas. Jika lingkungan yang tepat disediakan, mereka akan mengeksplorasi dan memperoleh pengetahuan sendiri.
  2. Pembelajaran Kolaboratif: Anak-anak belajar paling efektif ketika mereka bekerja sama, saling mengajar, dan memecahkan masalah secara kolektif.
  3. Minimal Invasive Education (MIE): Peran guru mungkin perlu diredefinisi dari pemberi informasi menjadi fasilitator, inspirator, atau “granola” (Grandmotherly Nurturing, Online Learning, and Assisted Education) seperti yang diusulkan Mitra – yang hanya memberikan dorongan minimal dan pertanyaan provokatif.
  4. Teknologi sebagai Katalisator: Akses terhadap teknologi dapat meruntuhkan hambatan geografis dan sosial dalam pendidikan, memberikan kesempatan belajar yang setara.

Warisan dan Masa Depan

Konsep “Hole in the Wall” telah berkembang menjadi gagasan “Self-Organized Learning Environments” (SOLEs), di mana anak-anak bekerja dalam kelompok kecil menggunakan internet untuk menjawab pertanyaan besar yang menantang, dengan intervensi dewasa yang minimal. Mitra sendiri dianugerahi hadiah TED Prize pada tahun 2013 untuk idenya tentang “School in the Cloud,” yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran mandiri berbasis teknologi di mana pun di dunia.

Secara historis, proyek Sugata Mitra menantang asumsi lama tentang struktur kelas, peran guru, dan metode pengajaran. Ini mengingatkan kita bahwa pembelajaran adalah proses alami, didorong oleh rasa ingin tahu dan interaksi, dan bahwa terkadang, intervensi terbaik adalah intervensi yang paling sedikit. “Hole in the Wall” bukan hanya tentang komputer di dinding; ini adalah tentang membuka jendela menuju potensi manusia yang luar biasa untuk belajar dan tumbuh, bahkan tanpa guru langsung yang mengawasi.

Komentar (0)

Silakan login terlebih dahulu untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Promo
mari buat perangkat pembelajaran Anda dengan 200 poin gratis.